Rumah yang hangat bukan yang tidak pernah berantakan. Tapi yang orangnya masih mau saling menyambut.
Piring menumpuk. Jadwal bentrok. Suasana naik-turun. Yang menentukan bukan kerapian sempurna — tapi apakah pintu rumah masih terasa terbuka.
"Selamat datang." "Bagaimana harimu?" "Ada yang bisa dibantu?"
Keramahtamahan di rumah bukan formalitas. Ia sinyal: kamu masih punya tempat di sini.
Tanyakan: "Saat orang di rumah pulang, mereka merasa disambut atau hanya dilalui?"
PEMANTIK #123