Rumah yang hangat bukan yang tidak pernah berantakan. Tapi yang orangnya masih mau saling menyambut.
Rumah yang hangat
bukan yang tidak pernah berantakan.
Tapi yang orangnya masih mau
saling menyambut.
bukan yang tidak pernah berantakan.
Tapi yang orangnya masih mau
saling menyambut.
Piring menumpuk.
Jadwal bentrok.
Suasana naik-turun.
Jadwal bentrok.
Suasana naik-turun.
Yang menentukan bukan
kerapian sempurna.
Tapi apakah pintu rumah
masih terasa terbuka.
kerapian sempurna.
Tapi apakah pintu rumah
masih terasa terbuka.
"Selamat datang."
"Bagaimana harimu?"
"Ada yang bisa dibantu?"
"Bagaimana harimu?"
"Ada yang bisa dibantu?"
Keramahtamahan di rumah
bukan formalitas.
Ia sinyal: kamu masih punya tempat di sini.
bukan formalitas.
Ia sinyal: kamu masih punya tempat di sini.
Tanyakan:
"Saat orang di rumah pulang,
mereka merasa disambut
atau hanya dilalui?"
"Saat orang di rumah pulang,
mereka merasa disambut
atau hanya dilalui?"
Rumah yang hangat bukan yang tidak pernah berantakan. Tapi yang orangnya masih mau saling menyambut.
Piring menumpuk. Jadwal bentrok. Suasana naik-turun. Yang menentukan bukan kerapian sempurna — tapi apakah pintu rumah masih terasa terbuka.
"Selamat datang." "Bagaimana harimu?" "Ada yang bisa dibantu?"
Keramahtamahan di rumah bukan formalitas. Ia sinyal: kamu masih punya tempat di sini.
Tanyakan: "Saat orang di rumah pulang, mereka merasa disambut atau hanya dilalui?"