Pasangan yang baik bukan yang tidak pernah bertengkar. Tapi yang tidak pernah berhenti memperbaiki.
Konflik datang. Suara naik. Perasaan tersakiti. Itu manusiawi.
Yang membedakan bukan ada atau tidaknya pertengkaran. Tapi ada atau tidaknya upaya kembali menyatukan.
Ada pasangan yang hanya tahu memulai konflik, tapi tidak pernah belajar menutupnya dengan baik. Ada juga pasangan yang konfliknya sering, tapi selalu kembali ke meja yang sama — duduk, mendengar, dan memperbaiki.
Memperbaiki bukan selalu ucapan indah. Kadang cukup: "Tadi aku terlalu keras." "Aku masih di sini." "Mari kita coba lagi."
Tanyakan: "Setelah konflik, apakah kami benar-benar memperbaiki — atau hanya menunggu diam reda?"
PEMANTIK #157