Kita membandingkan bab awal kita dengan bab tengah orang lain.
bab awal kita
dengan bab tengah
orang lain.
hasilnya.
panggungnya.
versi terbaiknya.
tahun-tahun sepi,
kegagalan yang tidak diunggah,
dan keraguan
yang sama seperti milik kita.
Tapi membandingkan
dengan potongan cerita
yang tidak lengkap —
itu tidak adil untuk diri sendiri.
yang cukup adil:
diri kita hari ini
dengan diri kita kemarin.
"Apakah saya sedang tumbuh,
atau hanya sedang sibuk
mengukur diri dengan orang lain?"
Kita membandingkan bab awal kita dengan bab tengah orang lain.
Yang kita lihat dari orang lain: hasilnya, panggungnya, versi terbaiknya. Posting di media sosial, pencapaian di acara, cerita sukses yang dibagikan. Semua terlihat jauh — seolah-olah kita tertinggal, seolah-olah mereka sudah sampai sementara kita masih di awal.
Yang tidak kita lihat: tahun-tahun sepi, kegagalan yang tidak diunggah, keraguan yang sama seperti milik kita. Proses yang tidak fotogenik. Momen-momen hampir menyerah. Bab-bab yang tidak pernah diceritakan.
Membandingkan itu wajar — manusia memang cenderung mengukur diri dengan orang lain. Tapi membandingkan dengan potongan cerita yang tidak lengkap itu tidak adil untuk diri sendiri. Kita membandingkan proses kita yang utuh dengan highlight reel orang lain.
Satu-satunya perbandingan yang cukup adil: diri kita hari ini dengan diri kita kemarin. Apakah kita sedikit lebih baik? Sedikit lebih jujur? Sedikit lebih dekat dengan yang kita inginkan?
Tanyakan: "Apakah saya sedang tumbuh, atau hanya sedang sibuk mengukur diri dengan orang lain?" Dari situ, energi yang tadinya habis untuk iri hati bisa dialihkan untuk langkah kecil berikutnya.