Kita rayakan promosi di LinkedIn. Pulang — dan baru sadar apa yang harus ditukar.
di LinkedIn.
Pulang —
dan baru sadar
apa yang harus ditukar.
Gelar berubah.
Meja pindah ke lantai atas.
Semua terlihat
seperti kemajuan.
jarang masuk posting:
rapat malam,
telepon di hari libur,
keputusan yang
tidak bisa didelegasikan lagi.
Tapi karena setiap naik tingkat
adalah pertukaran —
dan brosur-nya
jarang kita baca.
bukan jam kerja tambahan.
Tapi hal-hal kecil
yang perlahan
ketinggalan
karena "nanti saja."
posisi berikutnya:
"Kalau saya dapat ini,
apa yang harus saya lepas
dan apakah saya siap
membayarnya?"
Kita rayakan promosi di LinkedIn. Pulang — dan baru sadar apa yang harus ditukar.
Gaji naik. Gelar berubah. Meja pindah ke lantai atas. Kartu nama baru. Semua terlihat seperti kemajuan — dan memang ada hal nyata yang didapat.
Tapi yang ikut naik jarang masuk posting: rapat malam, telepon di hari libur, keputusan yang tidak bisa didelegasikan lagi. Waktu makan malam bersama yang tersisip. Hobi yang ditunda karena "nanti." Istirahat yang terasa seperti kemewahan.
Bukan karena promosi itu jebakan. Tapi setiap naik tingkat adalah pertukaran — dan brosur-nya jarang kita baca. Kita fokus pada yang didapat, bukan pada yang harus diserahkan.
Yang paling mahal bukan jam kerja tambahan. Tapi hal-hal kecil yang perlahan ketinggalan — makan siang tanpa laptop, akhir pekan tanpa notifikasi kerja, kehadiran yang tidak terpotong meeting.
Sebelum mengejar posisi berikutnya, tanyakan: "Kalau saya dapat ini, apa yang harus saya lepas — dan apakah saya siap membayarnya?"