Kita ingin anak mandiri, tapi sering tidak tahan melihat mereka kesulitan.
Kita bilang "biar dia belajar sendiri" — tapi begitu anak struggle, refleks kita langsung turun tangan. Kita ambil alih tugasnya. Kita selesaikan masalahnya. Kita lindungi dari kegagalan sebelum sempat terjadi.
Bukan karena kita tidak sayang. Justru karena sayang. Melihat anak kesulitan terasa lebih berat daripada memberi ruang belajar. Ada rasa bersalah jika mereka gagal. Ada rasa tidak tega jika mereka frustrasi. Ada keinginan untuk cepat-cepat "memperbaiki" — padahal prosesnya mungkin justru yang dibutuhkan.
Tapi mandiri bukan datang karena semua mudah. Mandiri tumbuh karena pernah menghadapi yang sulit — dengan dukungan yang cukup, bukan dengan solusi yang selalu diserahkan.
Ada perbedaan antara hadir dan mengambil alih. Hadir berarti anak tahu kita di sana kalau benar-benar dibutuhkan. Mengambil alih berarti kita tidak memberi kesempatan untuk mencoba, gagal, dan bangkit sendiri.
Kadang cinta yang paling sulit bukan memberi bantuan. Tapi memberi ruang supaya mereka belajar menolong diri sendiri — meski hati kita berkata "biar saja mama/papa yang kerjakan."
Dan dari situ, anak tidak hanya belajar menyelesaikan masalah. Mereka belajar bahwa mereka cukup mampu — bahkan ketika orang tuanya tidak langsung turun tangan.
PEMANTIK #019