Berhenti tidak selalu berarti menyerah. Kadang berhenti adalah keputusan yang paling berani.
Berhenti tidak selalu
berarti menyerah.
Kadang berhenti adalah keputusan
yang paling berani.
berarti menyerah.
Kadang berhenti adalah keputusan
yang paling berani.
Kita diajari:
"Jangan jadi orang
yang mudah menyerah."
Jadi kita bertahan.
Terus. Dan terus.
"Jangan jadi orang
yang mudah menyerah."
Jadi kita bertahan.
Terus. Dan terus.
Padahal ada bedanya:
menyerah karena takut,
dan berhenti karena sadar
arah ini bukan lagi jawabannya.
menyerah karena takut,
dan berhenti karena sadar
arah ini bukan lagi jawabannya.
Bertahan di jalan yang salah
bukan ketangguhan.
Itu takut mengakui
bahwa peta perlu diganti.
bukan ketangguhan.
Itu takut mengakui
bahwa peta perlu diganti.
Yang berat dari berhenti
bukan kehilangan arah lama.
Tapi menghadapi pertanyaan:
"Lalu sekarang apa?"
bukan kehilangan arah lama.
Tapi menghadapi pertanyaan:
"Lalu sekarang apa?"
Tanyakan:
"Saya bertahan karena masih percaya —
atau karena takut dianggap gagal?"
"Saya bertahan karena masih percaya —
atau karena takut dianggap gagal?"
Berhenti tidak selalu berarti menyerah. Kadang berhenti adalah keputusan yang paling berani.
Kita diajari: "Jangan jadi orang yang mudah menyerah." Jadi kita bertahan. Terus. Dan terus. Padahal ada bedanya: menyerah karena takut, dan berhenti karena sadar arah ini bukan lagi jawabannya.
Bertahan di jalan yang salah bukan ketangguhan. Itu takut mengakui bahwa peta perlu diganti.
Yang berat dari berhenti bukan kehilangan arah lama. Tapi menghadapi pertanyaan: "Lalu sekarang apa?"
Tanyakan: "Saya bertahan karena masih percaya — atau karena takut dianggap gagal?"