Menunda keputusan juga sebuah keputusan. Hanya saja, kita membiarkan keadaan yang memutuskan.
juga sebuah keputusan.
Hanya saja, kita membiarkan
keadaan yang memutuskan.
"Lihat perkembangannya."
"Belum waktunya."
Tapi kadang itu hanya
cara halus untuk
tidak menghadapi
rasa takut memilih.
pilihan perlahan berkurang.
Pintu perlahan menutup.
Dan akhirnya kita 'memilih'
apa yang tersisa.
meski salah — bisa dipelajari.
Keputusan yang terjadi sendiri
hanya bisa disesali.
"Saya sedang menunggu
informasi tambahan —
atau menunggu keberanian?"
Menunda keputusan juga sebuah keputusan. Hanya saja, kita membiarkan keadaan yang memutuskan.
"Nanti dulu." "Lihat perkembangannya." "Belum waktunya." Kadang itu bijak — memang perlu informasi lebih, memang kondisi belum matang. Tapi kadang itu hanya cara halus untuk tidak menghadapi rasa takut memilih.
Sementara kita menunggu, pilihan perlahan berkurang. Pintu perlahan menutup. Orang lain bergerak. Waktu berjalan. Dan akhirnya kita "memilih" apa yang tersisa — bukan karena itu yang kita inginkan, tapi karena itu yang masih ada.
Keputusan yang diambil sadar — meski salah — bisa dipelajari. Kita tahu apa yang kita pilih, dan dari situ bisa menyesuaikan. Keputusan yang terjadi sendiri hanya bisa disesali — karena kita tidak pernah benar-benar memilih.
Menunda bukan selalu salah. Tapi menunda tanpa batas, tanpa tenggat, tanpa kejujuran pada diri sendiri — itu bukan kehati-hatian. Itu penghindaran.
Tanyakan: "Saya sedang menunggu informasi tambahan — atau menunggu keberanian?" Dari situ, langkah berikutnya biasanya terasa lebih jelas — bukan karena sudah yakin, tapi karena sudah memilih untuk tidak menunggu selamanya.