Daftar isi PEMANTIK #017 · 11% Kalender
Leadership 20 Agu

Semakin tinggi posisi kita, semakin sedikit orang yang berani mengatakan kita salah.

Semakin tinggi posisi kita,

semakin sedikit orang
yang berani mengatakan
kita salah.
Bukan karena kita selalu benar.

Tapi karena posisi
membuat orang berpikir dua kali
sebelum berbicara jujur.
Keputusan kita selalu dapat setuju.

Ide kita jarang ditantang.

Feedback yang datang
sudah tersaring.
Dan tanpa sadar,

kita mulai percaya
bahwa persetujuan
berarti keputusan kita benar.
Pemimpin yang kuat
bukan yang paling jarang salah.

Tapi yang paling terbuka
dengan kritik yang jujur.
Kalau tidak ada yang berani
mengatakan kamu salah,

mungkin bukan karena kamu benar.
Tapi karena ruang untuk jujur
sudah hilang.

Semakin tinggi posisi kita, semakin sedikit orang yang berani mengatakan kita salah.

Bukan karena kita selalu benar — tapi karena posisi membuat orang berpikir dua kali sebelum berbicara jujur. Ada jarak yang tumbuh tanpa kita sadari. Ada pertimbangan: "Apakah aman bilang ini?" "Apakah karier saya terpengaruh?" "Apakah dia sudah terlalu yakin untuk didengar?"

Keputusan kita selalu dapat setuju. Ide kita jarang ditantang. Feedback yang datang sudah tersaring — halus, sopan, atau tidak datang sama sekali. Dan tanpa sadar, kita mulai percaya bahwa persetujuan berarti keputusan kita benar.

Itu bahaya yang sunyi. Karena pemimpin yang terisolasi dari kejujuran bukan pemimpin yang kuat — tapi pemimpin yang paling rentan terhadap blind spot.

Pemimpin yang kuat bukan yang paling jarang salah. Tapi yang paling terbuka dengan kritik yang jujur — yang sengaja menciptakan ruang aman untuk dissent, bukan hanya applause.

Kalau tidak ada yang berani mengatakan kamu salah, mungkin bukan karena kamu benar. Tapi karena ruang untuk jujur sudah hilang. Dan dari situ, pertanyaan yang lebih jujur bukan "Apakah keputusanku tepat?" — tapi "Siapa yang terakhir kali berani menantangnya?"